Kenapa Motor Kenceng Belum Tentu Menang di Suzuka?
Kalau lo dikasih pilihan antara motor paling kenceng atau motor yang paling gampang diajak belok, mayoritas mungkin bakal pilih yang tenaganya paling besar.
Masalahnya, di Suzuka, pilihan itu belum tentu benar.
Kenapa Suzuka Jadi Mimpi Buruk Buat Motor Eropa?
Kenceng doang gak cukup
Source: Another side of motorsport
Kalau ngomongin sirkuit yang bisa ngebedain mana motor bagus dan mana rider hebat, nama Suzuka Circuit hampir selalu masuk daftar. Bahkan ada cerita yang cukup sering beredar kalau sirkuit ini sengaja dibikin Jepang buat bikin pabrikan Eropa kesulitan. Emang gak pernah ada bukti resminya, tapi kalau lo lihat layout-nya, teori itu jadi lumayan masuk akal. Soalnya di Suzuka, tenaga gede bukan senjata utama.
Tikungan terus, napas aja susah
Banyak sirkuit punya trek lurus panjang buat motor ngeluarin seluruh tenaga yang mereka punya. Suzuka beda. Baru juga selesai satu tikungan, udah disambut tikungan berikutnya. Belum lagi kombinasi tikungan cepat, tikungan teknikal, sampai bagian legendaris kayak S Curves yang bikin rider harus terus-terusan mindahin bobot badan dan nyari racing line terbaik. Di sini, handling jadi jauh lebih penting dibanding sekadar top speed. Motor yang susah diajak belok bakal langsung ketahuan.
Elevasinya bikin kerja rider makin berat
Yang bikin Suzuka makin unik bukan cuma tikungannya yang rapet. Sirkuit ini juga punya perubahan elevasi yang cukup ekstrem. Ada bagian trek yang naik, turun, lalu langsung masuk tikungan berikutnya. Buat rider, ini artinya mereka harus terus menyesuaikan pengereman, bukaan gas, sampai posisi badan. Makanya banyak pembalap bilang Suzuka adalah salah satu sirkuit yang paling menguras tenaga dan konsentrasi. Sekali salah ambil garis, efeknya bisa kebawa sampai beberapa tikungan setelahnya.
Tempat di mana skill rider benar-benar kelihatan
Karena karakter trek kayak gini, Suzuka sering dianggap sebagai salah satu sirkuit yang paling jujur. Kalau motor lo kenceng tapi handling-nya biasa aja, bakal kesulitan. Kalau motor lo bagus tapi rider-nya gak berani ambil risiko, waktunya juga belum tentu cepat. Di sinilah kombinasi motor dan kemampuan rider diuji habis-habisan. Makanya gak heran kalau banyak pembalap menganggap menang di Suzuka punya gengsi yang berbeda dibanding menang di sirkuit lain. Kenceng di trek lurus memang keren. Tapi Suzuka selalu ngingetin kalau balapan gak melulu soal siapa yang punya tenaga paling besar. Kadang yang lebih penting adalah siapa yang bisa belok lebih cepat, lebih presisi, dan lebih berani. Kalau di Indonesia ada gak ya sirkuit yang tikungannya padet dan elevasinya berubah-ubah gini?